Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof Rossanto Dwi Handoyo. Foto: ist
KOSADATA – Anggaran riset Indonesia dinilai masih jauh dari memadai untuk mendorong daya saing ekonomi. Data Bank Dunia 2020 mencatat, belanja riset Indonesia hanya 0,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini tertinggal jauh dari rata-rata global yang mencapai 2,67 persen.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof Rossanto Dwi Handoyo, menyebut minimnya investasi riset bisa membuat Indonesia sulit bertransformasi menjadi negara industri.
“Anggaran 0,2 persen ini jauh dari ideal. Kalau ingin menguasai perekonomian, anggaran riset seharusnya meningkat,” ujarnya Prof Rossanto seperti dilansir laman resmi UNAIR, Kamis, 4 September 2025.
Rossanto mencontohkan Korea Selatan dan China yang mampu mengerek pertumbuhan industri berkat belanja riset besar. Menurut dia, inovasi dari riset membuat negara-negara itu lebih unggul menguasai pasar global.
“Negara yang berfokus pada riset bisa merebut pasar dari negara yang hanya meniru,” katanya.
Ia menilai pemerintah belum menempatkan riset sebagai sektor strategis. Akibatnya, Indonesia berisiko terus bergantung pada impor dari negara dengan teknologi lebih maju.
“Ini menciptakan technological gap yang membuat kita hanya jadi pengikut,” ucapnya.
Selain menunggu dana negara, Rossanto mendorong keterlibatan swasta dalam pendanaan riset. Pemerintah, kata dia, dapat memberi insentif agar perusahaan mau membangun divisi penelitian.
“Misalnya biaya riset bisa dianggap deductible tax. Pemerintah tak perlu menanggung sendiri,” tuturnya.***
Update terus berita terbaru KOSADATA di Google News.
Comments 0