Foto: ist
Oleh: Agung Nugroho
Aktivis Jakarta Institut
Buat warga kota besar, macet itu udah kayak sarapan: tiap hari ada. Solusi yang sering dipilih pemerintah? Jalan dilebarin. Kalau masih kurang lebar, trotoar pun ikut “disunat”.
Padahal, pelebaran jalan itu cuma obat sesaat. Jalan baru memang keliatan longgar, tapi sebentar aja sudah penuh lagi. Fenomena ini ada istilah kerennya: induced demand. Intinya, makin gampang mobil masuk, makin banyak orang bawa mobil. Hasilnya? Ya macet lagi, balik ke titik awal.
Tapi jangan salah. Ada kok kota-kota di dunia yang berhasil ngurangin macet tanpa harus mengorbankan trotoar. Malah mereka bikin trotoar makin lebar dan nyaman. Yuk, intip kisah suksesnya.
Singapura: Mobil Mahal, MRT Murah
Sejak 1970-an, Singapura sadar: negaranya kecil, nggak bakal kuat nampung mobil sebanyak-banyaknya. Solusinya cerdas: bikin mobil jadi barang mewah. Ada aturan COE (sertifikat kepemilikan) yang bikin harga mobil meroket, plus tarif ERP buat masuk jalan tertentu.
Di sisi lain, transportasi publiknya digarap serius: MRT dan bus yang rapi, bersih, dan tepat waktu. Hasilnya, mayoritas orang Singapura lebih milih naik transportasi umum. trotoar mereka juga adem, lega, dan nggak kepotong demi jalur mobil.
Tokyo: Hidup Berputar di Kereta
Bayangin, Tokyo itu penduduknya belasan juta, tapi nggak hancur-hancuran macet. Rahasianya? Kereta. Subway dan commuter line jadi tulang punggung. Orang bisa pindah dari ujung kota ke ujung lain tanpa pusing mikirin parkir.
Trotoarnya juga asik. Di sekitar stasiun, selalu rame orang jalan kaki, belanja, nongkrong. Kota ini membuktikan: kalau transportasi publik kuat, mobil pribadi jadi pilihan terakhir, bukan utama.
Seoul: Jalan Layang Dibongkar, Sungai Dihidupin
Awal 2000-an, Seoul bikin keputusan
Comments 0