Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Waryono Abdul Ghafur. Foto: ist
KOSADATA — Kementerian Agama (Kemenag) menilai potensi penerimaan zakat yang terus meningkat dapat menjadi instrumen strategis dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tahun ini, laju pertumbuhan zakat bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, menyebut kenaikan penerimaan zakat mencapai 17 persen. Angka ini jauh di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,9 persen.
“Jadi justru di zakat ini kenaikannya melampaui perekonomian secara umum,” ujar Waryono dalam keterangannya, Jum'at, 29 Agustus 2025.
Menurut dia, zakat selama ini disalurkan sesuai amanat undang-undang. Fokus utamanya adalah program pengentasan kemiskinan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga penyediaan rumah layak huni.
“Bencana juga termasuk. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) berkomitmen kuat pada hal itu,” katanya.
Selain memperkuat distribusi, Kemenag juga mendukung peningkatan kapasitas amil zakat lewat Sekolah Amil yang dikelola Forum Zakat (FOZ).
“Sekolah Amil mendidik agar pengelola zakat semakin profesional, terutama dalam hal pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat,” tambah Waryono.
Kemenag menargetkan pengumpulan zakat nasional naik 10 persen tahun ini. Saat ini, total zakat yang berhasil dihimpun mencapai Rp42 triliun. Angka tersebut masih jauh dari potensi maksimal yang diperkirakan lebih dari Rp327 triliun.
Untuk memastikan zakat tepat sasaran, penyaluran mulai 2025 akan menggunakan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan. Dengan begitu, distribusi zakat diharapkan lebih efektif dan tidak tumpang tindih dengan bantuan sosial lain.***
Update terus berita terbaru KOSADATA di Google News.
Comments 0