Dari Kampung Tugu, Bibit Keroncong Muda Indonesia Siap Mendunia

Fahmi Wahyudi
Sep 05, 2025

Foto: IG Keroncong Tugu

KOSADATA - Di tengah gempuran musik modern, sekelompok anak muda di Kampung Tugu, Jakarta Utara, memilih jalan berbeda. Mereka tekun menekuni alunan keroncong, musik warisan Portugis yang berabad-abad bertahan di tanah Betawi. 

Dari sanggar sederhana, lahir generasi baru yang pelan-pelan membuktikan keroncong bukan sekadar kenangan masa lalu.

Program pembinaan sejak usia dini menjadi kunci. Grup musik legendaris Krontjong Toegoe membuka ruang belajar bagi anak-anak, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Tujuannya sederhana: menjaga agar musik keroncong tetap hidup di tengah arus zaman.

Arthur James Michiels, pemain bas Krontjong Toegoe, menuturkan bahwa pihaknya bahkan membuka kelas ekstrakurikuler di sekolah menengah atas. 

“Butuh waktu tiga sampai enam bulan untuk bisa menguasai dasar bermain keroncong, itu pun tergantung ketekunan masing-masing,” ujar Arthur saat ditemui di sanggar Kampung Tugu, belum lama ini.

Hasilnya mulai tampak. Dari kelas-kelas tersebut, lahir bibit baru yang tak hanya piawai, tapi juga berani unjuk gigi di panggung internasional. 

Sejumlah siswa SMA yang telah mahir, misalnya, sudah pernah dikirim tampil di festival musik keroncong di Malaysia.

Dari semangat itu pula lahirlah kelompok baru bernama Keroncong Muda Indonesia (KMI). Grup ini belum lama tampil di panggung Solo Keroncong Festival, sebuah ajang bergengsi yang mempertemukan musisi lintas generasi. 

Penampilan mereka disambut antusias, menegaskan bahwa keroncong punya masa depan di tangan anak-anak muda.

Di sudut sanggar lain, sekelompok remaja putri tak kalah sibuk. Mereka menamakan diri The Meninas, dengan Loly sebagai vokalis, Jessica pada phrounga, Catherine di mecina, Abigail mengisi gitar, dan Jovita memegang biola. 

Senyum dan peluh berpadu setiap kali mereka berlatih, menandakan kerja


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0