Foto: ist
KOSADATA — Melanjutkan studi ke luar negeri bukan sekadar urusan memilih universitas dan mengurus visa. Ada tiga fase penting yang harus ditempuh calon mahasiswa sebelum resmi berangkat.
“Pertama, tahap perencanaan. Mahasiswa perlu menentukan jurusan, universitas, negara tujuan, sekaligus menyiapkan dokumen akademik dan kemampuan bahasa, terutama IELTS atau TOEFL,” ujar Handy Suswanto, konsultan pendidikan dari Alfalink dilansir dari laman resmi UPI, Kamis, 4 September 2025.
Tahap berikutnya adalah proses aplikasi—mulai dari pendaftaran ke universitas, penerimaan offer letter, hingga konfirmasi resmi. Setelah itu, barulah mahasiswa memasuki fase akhir: logistik dan keberangkatan, yang mencakup pengurusan visa, akomodasi, hingga registrasi ulang di universitas tujuan.
Handy menyoroti Australia dan Selandia Baru sebagai negara tujuan populer dengan kualitas pendidikan diakui dunia. Sistem belajar berbasis riset, lingkungan multikultural, dan keterampilan praktis disebutnya menjadi nilai tambah yang menjanjikan bagi mahasiswa Indonesia.
“Persiapan studi di luar negeri juga menuntut kesiapan mental, adaptasi budaya, dan manajemen waktu,” katanya.
Hal ini menjadi pembahasan pokok Webinar bertajuk “Mengenal Jalur Penerimaan Mahasiswa dan Sistem Pendidikan Dunia: Australia dan New Zealand” yang digelar Universitas Pendidikan Indonesia yang digelar secara daring melalui Zoom.
Wakil Dekan I FPEB UPI, Heny Hendrayati, menegaskan pentingnya mahasiswa membuka wawasan internasional.
“Kesempatan studi di luar negeri bisa menjadi modal besar dalam pengembangan diri dan profesionalisme masa depan,” ucapnya.
Selain pengetahuan teknis, peserta juga mendapat gambaran tentang biaya hidup, strategi memilih universitas, hingga tips menghadapi kendala dokumen. Webinar ini disebut mempertegas peran FPEB UPI dalam membekali mahasiswa dengan soft skills dan informasi global yang relevan untuk menghadapi tantangan abad ke-21.***
Update terus berita terbaru KOSADATA di
Comments 0