Nanang Indrawan, Aktivis Muda Indonesia, Penulis.
Jakarta. KOSADATA- Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw pada 5 September 2025 lalu, yang menandai 1.455 tahun kelahirannya dalam kalender masehi, refleksi atas kondisi bangsa menjadi sebuah keharusan. Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, demokrasi terus berjalan, namun di sisi lain kita dihadapkan pada krisis serius: korupsi yang mengakar, integritas Kepemimpinan yang melemah, dan ketidakadilan sosial yang semakin terasa.
Fakta menunjukkan betapa gentingnya situasi ini. Laporan Transparency International 2024 menempatkan Indonesia di peringkat 115 dari 180 negara dengan skor Indeks Persepsi Korupsi (CPI) hanya 34 dari 100. Angka ini adalah cermin penyakit akut yang menggerogoti institusi negara. Sementara itu, data BPS (2024) mencatat angka kemiskinan masih di level 9,36%, artinya lebih dari 25 juta rakyat hidup di bawah garis kemiskinan.
Kondisi ini diperparah oleh merosotnya kepercayaan publik. Survei Indikator Politik Indonesia (2024) menunjukkan tren penurunan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penegak hukum dan partai Politik dalam lima tahun terakhir. Di tengah krisis multidimensi ini, meneladani spirit Profetik Nabi Muhammad Saw—seorang pemimpin yang berhasil mentransformasi masyarakatnya—bukan lagi sekadar anjuran, melainkan sebuah kebutuhan mendesak.
Jauh sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad Saw telah digelari al-Amin (orang yang terpercaya). Ini adalah bukti bahwa legitimasi Kepemimpinan sejati lahir dari integritas pribadi yang tak tercela. Tercatat dalam sejarah, beliau menolak keras segala bentuk korupsi kekuasaan, bahkan saat diminta memberikan posisi kepada kerabatnya. Nabi menegaskan bahwa Kepemimpinan adalah amanah, bukan hadiah atau hak istimewa. Teladan ini menjadi tamparan keras bagi realitas di Indonesia, di mana korupsi pejabat publik tidak hanya merugikan negara secara
Comments 0