Tantangan Sekolah Swasta

Joeang Elkamali
May 24, 2024

Ilustrasi diskusi kependidikan Swasta

KOSADATA- Sekarang sedang viral dan ramai masalah kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Perguruan Tinggi. Klaim dari Pak Menteri, ini bagian dari menciptakan keadilan. Masyarakat secara umum melihatnya sebagai beban. Beragam sudut pandang bisa kita temukan baik di media massa, lebih khusus lagi di media sosial. 

Saya tidak mau membahas itu. Saya mau turun saja ke bawah. Ke sekolah-sekolah, lebih khusus lagi sekolah swasta. Tapi tenang saja, ini tidak njelimet kok. Ini bukan soal berat semisal falsafah pendidikan atau pengajaran. Ini lebih teknis, meski tentu ada 'filosofi' di balik teknis itu. Dan setelah menulis ini, secara moral saya harus melanjutkan ke masalah lain. Pasti itu. 

Hal yang paling mendebarkan bagi sekolah swasta, baik SMA, SMK, MA, adalah tahun ajaran baru. Betul itu. Pertanyaan besarnya; "berapa siswa yang masuk sekarang?" Pertanyaan ini menjadi maha penting, karena siswa bagi sebagian besar sekolah swasta adalah "ruh" sekolah. Jasad tanpa ruh, apalah gunanya? Mungkin itu yang dirasakan Pak Harpan dan Bu Mus, dua orang guru di film Laskar Pelangi. Kalau saja murid tahun ini kurang, selesai sudah sekolah itu. Menguras tenaga dan pikiran memang. 

Apa sesungguhnya yang terjadi dengan sekolah swasta? Begini. Kebanyakan sekolah swasta itu dibangun dengan niat baik, bermodalkan seadanya, dan berjalan apa adanya. Secara keuangan, jauh dari kata memadai. Lalu darimana sekolah-sekolah swasta selama ini dapat uang? Dua sumber. Bisa lebih, hanya tidak lazim. Sumber pertama adalah bantuan pemerintah. Bentuk nyatanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan BPMU dari provinsi. Untuk SMK, dihitung per siswa. Besarnya BOS Rp 1.600.000,00 per siswa/tahun. BPMU yang saya


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0