Anggota Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu. Foto: ist
Meneropong Kinerja Dinas Bina Marga
Kevin tak langsung menyimpulkan buruknya kinerja Dinas Bina Marga. Namun, ia menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap penyebab masalah trotoar di Jakarta.
Pertama, koordinasi antardinas masih lemah. Kerap kali, trotoar yang baru dibangun rusak oleh proyek drainase atau utilitas bawah tanah. Kedua, anggaran pemeliharaan dinilai tak memadai, kalah prioritas dibanding pembangunan baru. Ketiga, sistem pelaporan kerusakan trotoar dari warga masih jalan di tempat, membuat perbaikan kerap terlambat.
Kevin menawarkan sejumlah solusi: integrasi perencanaan antardinas lewat satu masterplan trotoar, sistem pemeliharaan berbasis aplikasi laporan masyarakat seperti Qlue atau JakLapor, serta peningkatan kapasitas teknis petugas pemeliharaan.
Mengunci Anggaran, Menghidupkan Partisipasi
Agar efektif, PSI mendorong setidaknya 40 persen anggaran trotoar dialokasikan untuk pemeliharaan, khususnya di kawasan padat seperti sekitar stasiun, halte, dan sekolah.
Standar teknis pembangunan trotoar, menurut Kevin, juga perlu diperketat: lebar minimal 2 meter, permukaan rata, dan bebas genangan. Vendor yang melanggar spesifikasi harus dikenai sanksi tegas.
Ia pun mendorong pelibatan masyarakat dalam desain trotoar lewat musyawarah kelurahan serta pembentukan komunitas "Trotoar Bersih" yang aktif mengawasi kualitas pekerjaan. Selain itu, audit berkala oleh lembaga independen seperti BPK atau Bawasda dinilai wajib untuk menutup celah penyelewengan.
"Trotoar adalah hak dasar warga kota," tutup Kevin. "Dan hak itu harus dibangun — bukan hanya dalam beton, tetapi juga dalam niat baik dan tata kelola yang benar."**
Comments 0