Macet Tak Harus Korbankan Trotoar

Ida Farida
Aug 24, 2025

Foto: ist

gokil: mereka bongkar jalan layang Cheonggyecheon. Bukannya dilebarin, malah dihapus. Sungai yang selama ini ketutup beton dihidupin lagi, jalur pejalan kaki dibagusin, transportasi umum diperkuat.

Awalnya banyak yang protes, tapi hasilnya bikin semua orang kaget: udara lebih bersih, kota lebih cantik, turis berdatangan, dan macet malah berkurang.

Bogotá: Revolusi BRT dan Sepeda

Dulu Bogotá, Kolombia, macetnya parah banget. Tapi wali kotanya, Enrique Peñalosa, bikin gebrakan: bikin sistem TransMilenio (bus rapid transit) dengan jalur khusus, trotoar lebar, dan jalur sepeda di mana-mana.

Setiap Minggu ada acara Ciclovía: jalan utama ditutup buat mobil, dikasih ke pesepeda dan pejalan kaki. Jadinya, warga terbiasa mikir: mobil itu bukan segala-galanya.

Kopenhagen: Kota Sepeda, Bukan Kota Mobil

Kalau denger Kopenhagen, pasti langsung kepikiran sepeda. Tapi tahu nggak? Itu hasil keputusan berani sejak 1960-an. Pemerintahnya nekat: kapasitas jalan buat mobil dikurangi, diganti jalur sepeda dan trotoar lebih luas.

Sekarang, lebih dari 60% warganya gowes tiap hari. Kopenhagen pun terkenal sebagai kota yang manusiawi: nyaman buat jalan kaki, aman buat bersepeda, dan nggak dikuasai mobil.

Pelajaran Buat Jakarta

Nah, pelajaran dari kisah-kisah tadi jelas: macet nggak bakal selesai dengan melebarin jalan, apalagi ngorbanin trotoar.

Sayangnya, di banyak kota besar Indonesia, resep lama masih dipakai: pelebaran jalan dianggap solusi instan. Padahal, transportasi publik kita baru mulai dibangun dan belum sepenuhnya bikin orang rela ninggalin kendaraan pribadi. trotoar juga masih sering diperlakukan kayak “sisa lahan” yang bisa diutak-atik seenaknya.

Kalau mau serius keluar dari jerat macet, kita harus berani belajar: bikin transportasi publik yang bener-bener nyaman, batasi kendaraan pribadi, dan hormati hak pejalan kaki. Karena kota yang


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0