Pelaku seni rebana biang di Sanggar Pusaka Ciganjur. Foto: dok Sanggar Pusaka
rebana biang terdiri dari tiga rebana dengan fungsi dan suara yang berbeda, Untuk Rebana paling besar, rebana biang berukuran 52 centimeter, untuk yang lebih kecil bernama kotek dengan diameter 42 centimeter, dan yang paling kecil bernama gendung berdiameter 32 centimeter.
Ketiganya disandingkan dan dimainkan dengan cara dipangku karena ukurannya terbilang besar. Untuk bahan rebana sendiri kualitas paling bagus menggunakan kayu nangka, dan menggunakan kulit kambing dan dipahat secara manual.
“Itu kualitas terbaik, jadi kalau dipukul bisa keluar suara yang bagus,”kata kakek empat orang cucu itu.
Di setiap pementasan rebana biang, biasanya ada satu tarian yang mengiringi tabuhan rebana yaitu tari Belenggo, Sebuah tarian yang menyerupai gerakan pencak silat dan dimainkan oleh para pria.
Tumbuh kembang rebana biang terus mengikuti arus, Nasir mengatakan, kaum muda masih ada yang menggeluti, namun terbilang jarang. Bahkan sesepuh rebana biang masih terus memantau meski tidak turut ikut dalam semua pementasan.
“Seperti ayah saya sendiri yaitu Haji Kosasih atau karib disapa Wan Engkos beliau masih bisa bermain tapi sudah tidak mampu banyak aktif lagi,” katanya.
Wan Engkos sendiri merupakan guru yang masih memantau perkembangan rebana biang. Padahal usianya sendiri sudah lebih dari 90 tahun.
rebana biang merupakan kesenian yang sudah kerap ditampilkan di berbagai kesempatan, Generasi Ke-enam Sanggar Pusaka Ciganjur David Rahman, merupakan salah satu orang anak muda yang kerap membawa rebana biang di setiap event.
Bahkan saat rebana biang diminta melakukan pentas
Comments 0