Deden Wafa Fawwaz, Penulis (Ketua Bidang Hubungan Anyar Lembaga dan Organisasi PD. Pemuda PERSIS kab. Tasikmalaya).
Selain menjalankan fungsi pengawasan, Pemuda Persis juga membangun pola kemitraan yang konstruktif. Kompleksitas persoalan daerah, seperti kemiskinan, kesenjangan pendidikan, dan persoalan lingkungan, tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi pilihan strategis. Melalui model Pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat sipil, Pemuda Persis berperan sebagai penghubung antaraktor. Dialog dan audiensi dengan pemangku kepentingan dilakukan untuk menyampaikan data lapangan sekaligus menawarkan solusi. Dengan cara ini, partisipasi tidak berhenti pada kritik, tetapi berlanjut pada kontribusi nyata dalam perumusan kebijakan.
Agar kemitraan tersebut berjalan efektif, diperlukan kemampuan komunikasi Politik yang matang. Kader Pemuda Persis dilatih untuk berdialog secara santun dan argumentatif dengan berbagai pihak, baik di lingkungan eksekutif maupun legislatif. Aspirasi masyarakat disampaikan melalui mekanisme demokratis, dengan tetap menjaga independensi organisasi. Pemuda Persis tidak menjadi bagian dari Politik praktis, melainkan mempertahankan posisi sebagai mitra kritis yang mendukung kebijakan yang berpihak pada rakyat dan mengoreksi kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat.
Partisipasi dalam pembangunan juga diwujudkan melalui aksi sosial langsung di tengah masyarakat. Program pemberdayaan ekonomi, pendampingan pendidikan,
Comments 0