Agustinus Tamtama Putera. Foto: Ist
Jakarta sudah coba melaksanakan apa yang Freya Mathew, seorang filsuf lingkungan kebangsaan Australia, kemukakan dalam artikel yang menarik berjudul “Letting the World Grow Old”. Dalam artikel itu ia menandaskan agar setiap orang dan lembaga membiarkan dunia bertumbuh tanpa harus merusak.
Maka konteks ruang terbuka hijau hendak mengembalikan situasi manusia dan alam yang memang kian terancam. Manusia adalah bagian integral dari alam meskipun oleh kesanggupan budinya, manusia membuat determinasi dan menguasai alam semesta. Akan tetapi manusia tetap memerlukan alam untuk dapat berkembang. Di sini, manusia membiarkan alam tetap ada demikian pula sebaliknya. Tercipta sinergitas di dalamnya.
Perihal fenomena polusi yang akhir-akhir ini menyeruak kemudian hendaknya dilihat dari konstelasi besar dan multisudut Jakarta yang juga kompleks. Halnya bukan hanya soal banyaknya jumlah kendaraan atau polusi industri yang sudah tak terbendung, melainkan soal keberimbangan ekologis.
Bahwa Jakarta sudah tidak seimbang secara ekologis. Ini menyangkut prinsip, bukan saling tuduh dan saling menyalahkan yang ujung-ujungnya tidak mendatangkan solusi sama sekali. Jakarta darurat Ekologi karena soal kesadaran yang kurang dari berbagai pihak. Udara yang pekat di Jakarta adalah apa yang tampak.
Di balik itu, polusi tersebut merupakan akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan tidak sehat orang per orangan dan kelompok, dalam hal ini juga termasuk industri-industri besar korporat yang mengeluarkan banyak energi dan panas. Pun bila diupayakan anjuran untuk menggunakan kendaraan listrik, seberapa
Comments 0