Agustinus Tamtama Putera. Foto: Ist
Oleh: Agustinus Tamtama Putra
Peneliti Kebijakan Publik GMT Institute Jakarta
KOSADATA - GMT Institute Jakarta adalah salah satu institusi yang menaruh perhatian besar pada lingkungan hidup. Bahwa sesungguhnya persoalan polusi ialah perihal Ekologi. Polusi memang menjadi masalah global sebab bumi secara keseluruhan memang mengalami krisis ekosistem.
Biodiversitas di banyak tempat di berbagai belahan dunia terancam oleh biouniformitas—demikian saya mengistilahkannya—melalui kinerja-kinerja manusia yang polutif. Kinerja manusia sekedar untuk hidup tentu bukanlah ancaman terhadap krisis Ekologi global. Yang lebih signifikan dan rentan polutif ialah karya-karya masif dan raksasa dari perusahaan-perusahaan entah tambang maupun perkebunan yang expansif.
Mengingat skalanya yang menjangkau luas, maka perusahaan-perusahaan tersebut jika mengabaikan aspek ekologis, tidak lain kemudian mendatangkan krisis biodiversitas.
Sebut saja misalnya perkebunan sawit. Biodiversitas tentu dikorbankan sebab yang muncul kemudian ialah uniformitas. Sederhananya hanya pohon sawit yang bisa hidup, sementara itu misalnya pohon Bengkirai, Meranti, Tengkawang, Ulin, Pulai, Laban dan Cengkodok harus dibabat saat pembukaan lahan.
Nama-nama pohon tersebut bahkan mungkin asing di telinga Anda. Ya, banyak spesies pohon yang hilang. Fungsi berubah, dari hutan heterogen kini menjadi lahan homogen. Ternyata demi kemakmuran ekonomi, ada harga mahal juga yang harus dibayar dan direlakan, yaitu generasi ke depan tidak akan tahu lagi berbagai jenis pohon dan—yang lebih parahnya—hidup dalam krisis iklim seperti yang terjadi sekarang ini.
Konteks Jakarta
Tentu tidak ada perkebunan sawit di Jakarta. Akan tetapi perusahaan-perusahaan besar dengan emisi energi yang juga raksasa kiranya bisa didata. Apakah kemudian perusahaan-perusahaan tersebut sungguh-sungguh memperhatikan dan menjalankan aspek ekologis, biarlah yang berkepentingan menjawab dan mengecek praktek pelaksanaannya.
Namun kiranya sudah di
Comments 0