tidak lazim. Sumber pertama adalah bantuan pemerintah. Bentuk nyatanya Bantuan Operasional
Sekolah (BOS) dan BPMU dari provinsi. Untuk SMK, dihitung per siswa. Besarnya BOS Rp 1.600.000,00 per siswa/tahun. BPMU yang saya tahu sekarang (kononnya turun), Rp 600.000,00 per siswa/tahun. Jadi per siswa bulatnya sekitar Rp 2.200.000,00. Tentu baik BOS atau BPMU ada pos-posnya. Yang saya tahu prioritas utamanya buku atau perpustakan. Prioritas kedua penerimaan peserta didik baru (PPDB). Prioritas ketiga baru gaji/honor
Guru. Sumber kedua dari iuran siswa. Tapi menurut pengamatan saya, ini sangat kecil keterserapannya. Dibawah 40%. Pernah satu
Sekolah yang tidak begitu besar (per tahun mengeluarkan 60-an siswa), setelah dikalkulasi utangnya selama 5 tahun, angkanya mencapai 1,2 miliar. Besar, bukan? Andai dibayar, cukup banyak dana yang dimiliki
Sekolah. Tapi yang mau bagaimana lagi.
Apa yang bisa Sekolah upayakan? Pertama penagihan. Kedua penagihan plus pemberian diskon. Diumumkanlah ke para alumni itu, "ayo bayar sekarang, ada pengurangan 50%". Itu terpaksa dilakukan, daripada tidak ada yang bayar sama sekali. Sampai sini saya simpulkan dulu : sumber Sekolah itu dua, yang satu lancar, yang kedua tidak lancar. Semuanya tergantung jumlah siswa.
Menurut aturan, Sekolah%20swasta">Sekolah Swasta itu sumber utamanya adalah yayasan. Tapi lagi-lagi, sebagian besar yayasan yang punya Sekolah, tidak punya sumber dana. Bahkan di beberapa Sekolah, yayasan justru menarik dana dari Sekolah sebesar persen tertentu. Memang itu untuk perbaikan fasilitas, hanya saja terbayang bagaimana uang yang sudah seret itu, juga tertarik sebagian kecilnya.
Itulah kenapa, banyak Sekolah%20swasta">Sekolah Swasta
Comments 0