Plt Kepala Seksi Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Bonnie Medana Pahlevie. Foto: YT DKI Jakarta
KOSADATA — Angka prevalensi gangguan depresi di DKI Jakarta masih tergolong tinggi. Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 5,91 persen penduduk Jakarta berusia di atas 15 tahun tercatat mengalami depresi. Angka ini nyaris menyentuh rata-rata nasional yang berada di angka 6,1 persen.
Plt Kepala Seksi Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Bonnie Medana Pahlevie, menyebut persoalan ini belum sepenuhnya tertangani. “Cakupan pelayanan kesehatan jiwa kita masih rendah. Hanya 10,7 persen dari penderita depresi yang mendapat pengobatan,” ujar Bonnie dalam akun YouTube DKI Jakarta, dikutip Senin, 28 April 2025.
Situasi ini tampaknya belum banyak berubah. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 memang mencatat adanya penurunan prevalensi gangguan jiwa menjadi 1,5 persen. Namun angka itu masih dianggap menjadi persoalan serius. Bonnie menambahkan, prevalensi masalah kesehatan jiwa secara umum di Jakarta tercatat 2,3 persen.
Salah satu temuan yang paling mencemaskan adalah data terkait keinginan bunuh diri. Meski angkanya terbilang kecil, yakni 0,44 persen, namun hal itu tidak bisa dianggap remeh. “Itu angka yang harus jadi perhatian bersama, karena wilayah perkotaan seperti Jakarta memiliki tekanan hidup yang lebih berat,” kata Bonnie.
Faktor penyebabnya pun tak sederhana. Urbanisasi, polusi udara, gaya hidup serba cepat dan kompetitif, hingga rendahnya literasi kesehatan mental menjadi pemicunya. “Tekanan hidup di ibu kota itu tinggi. Masyarakat dari luar daerah datang untuk bekerja, sekolah, dan mencari penghidupan. Kompetisinya ketat,” ujarnya.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta pun mengupayakan solusi dengan memperluas layanan telekonsultasi kesehatan jiwa. Layanan ini memungkinkan warga Jakarta berkonsultasi secara daring dengan tenaga
Comments 0