Sejumlah anak-anak Jakarta semringah mendapatkan pemutihan ijazah tahap III. Foto: dok. Pemprov DKI
Total, hingga saat ini sudah 1.315 siswa yang menerima manfaat program ini, dengan anggaran mencapai Rp4,3 miliar. Namun Pramono tak berhenti di situ.
“Tahun ini target kami adalah memutihkan 6.652 ijazah. Saya tahu, mereka yang belum mengambil bukan karena tak mau, tapi karena tak mampu. Ini bukan tentang angka, tapi tentang membuka harapan,” ucapnya.
Di balik upaya ini, terhampar narasi yang lebih besar: pendidikan sebagai alat pemutus rantai kemiskinan. Bukan sekadar slogan, tapi langkah konkret yang disokong program-program lain seperti Kartu Jakarta Pintar Plus (KJP Plus) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).
“Pendidikan adalah pintu keluar dari ketidakberuntungan. Tugas saya bukan hanya memimpin, tapi melayani—terutama para pelajar yang ingin meraih cita-citanya,” kata Pramono, tegas.
Matahari mulai bergeser ketika acara di Cipulir selesai. Tapi ada yang lebih terang dari cahaya siang itu: keyakinan baru di mata ratusan siswa. Mereka pulang tak hanya membawa selembar ijazah, tapi juga harapan baru.
Dan seperti kata Pramono, “Semoga ijazah ini menjadi bekal. Entah untuk melanjutkan sekolah, atau untuk membuka pintu kerja. Yang jelas: masa depan kalian baru saja dimulai.”***
Comments 0