Inisiator Jakarta Barometer, Jim Lomen Sihombing. Foto: Ist
KOSADATA - Inisiator Jakarta Barometer, Jim Lomen Sihombing menilai janggal terhadap Penyertaan Modal Daerah (PMD) sebesar Rp517 miliar kepada PT Jakarta Solusi Lestari (JSL) sebagai anak usaha dari PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk pengerjaan seluruh proyek intermediate treatment facility (ITF) di Jakarta.
Jim mengatakan, pihaknya melihat bahwa skema Engineering - Procurement - Construction (EPC) atau sistem kontraktor yang akan dilakukan pada proyek ITF berpotensi menjadi jebakan batman lantaran seharusnya Jakpro menyiapkan full capex proyek sesuai perhitungan yakni sekitar Rp5 triliun.
"Skema yang diatur saat ini kan nanti pihak ketiga atau perusahaan kontraktor akan biayai ini di awal atau saat konstruksi, tapi kalau nantinya total pembiayaan enggak bisa dibayarkan oleh Jakpro, saham Jakpro di JSL akan diserahkan ke perusahaan ketiga itu, akibatnya saham Jakpro secara otomatis terdilusi menjadi minoritas. PJ Gub Heru mesti waspada," kata Jim Lomen di Jakarta, Selasa (15/8/2023).
Lebih lanjut Jim menyampaikan, JSL merupakan perusahaan yang sudah terbentuk sebelum proyek ITF ini muncul, sehingga ada potensi penjualan aset saham atau milik daerah jika ditengah jalan Jakpro tidak bisa membayar sisa kebutuhan proyek.
Menurut Jim, keadaan tersebut seharusnya tidak dapat ditentukan sepihak oleh Jakpro atau JSL lantaran harus mendapat persetujuan Pemprov dan DPRD sebelumnya.
"Skema ini enggak lazim lah karena harusnya enggak ada pengalihan saham mayoritas untuk lelang mitra kontraktor. Tapi pun akan lain cerita kalau kontraktor dan Jakpro bikin perusahaan baru dan punya kesepakatan atau perjanjian bisnis," kata Jim.
Jim pun meminta Pemprov DKI, dalam hal ini Asisten Perekonomian dan Keuangan serta
Comments 0