Salah satu koleksi layang-layang di museum layang-layang. Foto: saf
Selain dari daerah, ada juga koleksi layang-layang dari negara lain seperti Cina, Jepang, Belanda, Vietnam, dan Malaysia. Semua layang-layang tersebut dipajang dengan sangat indah dan memperhatikan estetika.
Selain unik dan menarik, museum juga menyimpan koleksi layang-layang dengan ukuran terbesar dan terkecil. Kedua jenis ukuran tersebut menjadi penanda bahwa layang-layang memiliki karakter yang beragam dengan ukuran yang disesuaikan.
Menurut Lina, ada layangan terbesar di Indonesia bernama Megaray. layang-layang tersebut disebut raksasa, karena berukuran 9x26 meter. Namun sebaliknya, ada juga layang-layang yang disebut mini, karena ukurannya hanya dua sentimeter (cm) dan disimpan dalam kotak kaca khusus.
Menurut Lina, menerbangkan layang-layang juga tidak mudah. Membutuhkan keahlian khusus. Keahlian tersebut dibutuhkan, karena karakterikstik layang-layang estetik berbeda dengan layang-layang adu yang biasa dimainkan masyarakat umum.
Jika layang-layang adu cukup dimainkan oleh satu orang saja, tapi layang-layang estetik yang memerlukan lebih dari satu orang, tergantung pada jenis layang-layangnya.
Lina mencontohkanya, untuk menerbangkan layang-layang khas Bali yang ukurannya besar dan desain yang rumit, membutuhkan lebih dari satu orang untuk memainkannya. Mereka akan bertugas untuk menaikkan layang-layang, dan juga ada yang mengendalikan saat layang-layang sudah di udara.
Mengingat museum layang-layang adalah tempat untuk mengulik segala informasi tentang mainan tradisional tersebut, maka pengelola menyediakan ruangan multimedia yang khusus memutarkan sejarah dan ragam layang-layang dari seluruh dunia.
Tayangan yang diputar selama 15 menit itu, akan memanjakan para pengunjung untuk mendapatkan informasi yang banyak tentang layang-layang. Tentu saja, sajian tersebut dinikmati sambil duduk nyaman ditemani pemandu.
Namun, sebelum
Comments 0