Paradigma Kepemimpinan Qurani Menuju Idealitas Peradaban Pemuda Persis

Joeang Elkamali
Apr 20, 2026

Aldiansyah Nugraha, penulis: Kabid Jam'iyyah PD. Pemuda Persis kab. Ciamis.

KOSADATA- Diskursus mengenai suksesi Kepemimpinan dalam jam'iyyah kerap kali diwarnai oleh dilema etis. Di satu sisi, terdapat keengganan—yang lahir dari sikap tawadhu (rendah hati) dan ketakutan akan beban akhirat—untuk mencalonkan diri. Di sisi lain, organisasi sering kali mengalami stagnasi ketika figur-figur yang memiliki kompetensi teknis dan kapasitas manajerial justru memilih diam.

Anomali strategis terhadap tradisi pasif ini ditunjukkan secara nyata dalam rekam jejak profetik Nabi Yusuf as. yang secara eksplisit meminta jabatan strategis sebagai bendahara negara. Tulisan ini bermaksud membedah tindakan Nabi Yusuf melalui kacamata syariat, menyintesiskan dua hadis yang tampak kontradiktif, dan menarik relevansinya bagi transisi Kepemimpinan jam'iyyah, khususnya menyongsong perhelatan Muktamar XIV Pemuda Persis.

1. Landasan Teologis: Portofolio Nabi Yusuf as.
Kisah Nabi Yusuf as. menembus batasan "ruang kosong" dalam Kepemimpinan. Beliau tidak tiba-tiba diangkat tanpa alasan, melainkan melalui proses validasi integritas, pengajuan portofolio, dan deklarasi kompetensi. Hal ini terekam jelas dalam QS. Yusuf [12]: 54-56:

وَقَالَ ٱلۡمَلِكُ ٱئۡتُونِي بِهِۦٓ أَسۡتَخۡلِصۡهُ لِنَفۡسِيۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلۡيَوۡمَ لَدَيۡنَا مَكِينٌ أَمِينٞ (٥٤)
Artinya: Dan raja berkata, "Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilihnya sebagai orang kepercayaanku." Maka ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengannya, dia (raja) berkata, "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai di sisi kami." >

قَالَ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ (٥٥)
Artinya: Dia (Yusuf) berkata, "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (Hafizh), lagi berpengetahuan ('Alim)." >

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَتَبَوَّأُ مِنۡهَا حَيۡثُ يَشَآءُۚ نُصِيبُ بِرَحۡمَتِنَا مَن نَّشَآءُۖ وَلَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (٥٦)
Artinya: Dan demikianlah

Related Post

Post a Comment

Comments 0