Prabowo Subianto dan Khofifah Indar Parawansa. Foto: ist
Kesalahan yang lain adalah ketika Prabowo memilih Erick Thohir. Bagi ulama asal Malang Raya itu, memilih Erick juga sama halnya memilih kekalahan.
Hal ini karena melihat dari sepak terjang Menteri BUMN itu yang acap kali mendapatkan sentimen negatif baik saat menjadi menteri maupun kepemimpinannya di PSSI.
"Erick ini terlalu banyak kontroversi. Finansial mungkin dia oke ya, tapi elektoral, elektabilitas dan integritas masih patut dipertanyakan lagi," tukasnya.
Jika melihat peta kekuatan para Capres yang sudah mendeklarsikan pasangannya, Prabowo harus memilih cawapres yang tidak hanya sekadar penyeimbang kekuatannya sendiri, tapi juga mampu bersaing dengan dua cawapres yang ada, yakni Mahfud MD di Ganjar Pranowo, dan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin di Anies Baswedan.
Usulan Habib Syakur ini senada dengan rekomendasi Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dia mengusulkan agar Prabowo Subianto menggandeng Khofifah Indar Parawansa sebagai Cawapres dari Koalisi Indonesia Maju.
Namun, AHY menegaskan keputusan bacawapres merupakan wewenang mutlak Prabowo. "Demokrat tidak mengusulkan kader utamanya. Tapi, kita kemudian menyampaikan, baik juga untuk dipikirkan, nama Bu Khofifah, Gubernur Jawa Timur, dengan sejumlah faktor dan pertimbangan," kata AHY dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/10/2023).***
Comments 0