Survei yang dilakukan KIC dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif survei online dan kualitatif in-depth interview. Responden untuk survei online yaitu 1.648Â dari pulau Jawa dan 543 dari luar pulau Jawa.
Sedangkan in-depth interview melibatkan enam narasumber yang merupakan pengelola, pelaku usaha, komunitas agama serta ahli.
Gundy menambahkan, 87 persen responden menanggapi penutupan candi dengan sentimen positif dan 12 persen merespon negatif.
Alasan responden menanggapi penutupan candi dengan positif karena pelestarian candi, mengindari perilaku buruk pengunjung, menjaga benda bersejarah dan sumber pengetahuan, menghormati tempat sakral dan upaya konservasi candi.
“Survei ini memperlihatkan bahwa penutupan teras Candi Borobudur pada dasarnya bisa diterima oleh masyarakat. Karena, sebagian besar paham bahwa Candi Borobudur adalah cagar budaya yang tentunya harus dirawat. Masyarakat juga menerima alasan pelarangan pengunjung naik ke Candi Borobudur,†ujar Gundy.
Gundy menambahkan, naik Candi Borobudur merupakan daya tarik dari wisata Borobudur.
Namun, melihat tingkat pengetahuan serta sentimen positif masyarakat terhadap ditutupnya akses naik candi yang sudah cukup tinggi, sehingga dalam hal ini membuka akses naik candi bukan menjadi hal yang urgen bagi wisatawan.Â
Menurut Gundy, untuk menggantikan aktivitas naik candi tersebut perlu dibuatkan aktivitas alternatif bagi pengunjung yang dapat menggantikan pengalaman naik candi.
Comments 0