UGM dan BRIN Siapkan Nuklir untuk Basmi Lalat Buah Penghambat Ekspor

Ida Farida
Aug 24, 2025

Foto: dok. UGM

KOSADATA – Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Fakultas Pertanian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kolaborasi riset pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengendalian lalat buah. Hama ini kerap menjadi batu sandungan ekspor hortikultura Indonesia.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hama Tanaman Faperta UGM, Suputa, menyebut riset bersama ini diarahkan pada peningkatan daya saing komoditas lokal, terutama salak pondoh yang menjadi ikon Yogyakarta. 

“Serangan lalat buah menjadi hambatan serius dalam ekspor buah Indonesia,” ujar Suputa saat menerima tim peneliti BRIN seperti dilansir laman resmi UGM, Minggu, 24 Agustus 2025.

Ia mencontohkan kasus 2016 ketika ekspor salak DIY ke Australia ditolak dan dimusnahkan karena ditemukan belatung lalat buah. Sejak itu, Australia menghentikan impor salak dari Yogyakarta. 

Padahal, kata dia, iradiasi nuklir mampu mematikan telur maupun larva lalat buah tanpa merusak kualitas buah. “Kita harapkan produk buah kita bisa diterima negara mitra dagang,” katanya.

Kolaborasi ini, lanjut Suputa, diharapkan tak hanya menyelamatkan buah lokal dari serangan hama, tapi juga mendongkrak devisa negara melalui peningkatan ekspor. 

“Ini wujud riset interdisiplin dan multidisiplin agar tidak ada ego sektoral. Tujuannya jelas, meningkatkan kesejahteraan petani,” ucapnya.

Dari sisi BRIN, peluang pemanfaatan teknologi nuklir untuk perlindungan tanaman dinilai besar, khususnya dalam tahap pascapanen. 

Murni Indarwatmi, peneliti BRIN, menuturkan iradiasi dapat menembus hingga ke dalam buah dan membunuh telur maupun larva lalat buah. “Untuk fitosanitari, teknologi ini sangat efektif,” katanya.

Meski begitu, Murni mengakui tantangan masih muncul dari persepsi publik yang kerap mengaitkan nuklir dengan bom atau kecelakaan reaktor. 

“Padahal iradiasi ini aman, tidak meninggalkan zat radioaktif sama


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0