Foto: dok. Kemenkoinfra
KOSADATA — Hamparan lumpur, bangunan runtuh, dan jalan yang terputus menyambut kedatangan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Aceh Tamiang.
Kabupaten yang terletak di perbatasan Aceh–Sumatra Utara itu menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan paling parah akibat banjir besar dan longsor yang terjadi beberapa waktu terakhir.
“Hari ini saya kembali lagi ke daerah bencana… Aceh Tamiang termasuk yang paling parah,” kata AHY saat meninjau langsung area terdampak, usai perjalanan darat panjang dari Sumatra Utara.
Nada suaranya datar, namun ekspresinya menyiratkan keprihatinan dalam. Di beberapa titik yang ia datangi, hampir tak ada bangunan yang berdiri utuh. Rumah-rumah warga tampak ringsek, sementara fasilitas pemerintah pun tak luput dari terjangan air dan tanah.
“Setelah melihat langsung kondisi di lapangan, memang sangat parah. Hampir semua struktur bangunan, baik milik masyarakat maupun pemerintah, hancur atau rusak berat,” katanya.
Kunjungan AHY kali ini tidak sekadar simbolik. Ia mengatakan penanganan darurat harus bergerak cepat dan terkoordinasi, terutama untuk menjawab kebutuhan paling mendesak masyarakat.
Logistik Menipis, Warga Bertahan
Di sela dialognya dengan warga, AHY menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar tidak boleh terhambat.
“Beras, sembako, air bersih, tenda, layanan kesehatan — semuanya harus terus mengalir. Masyarakat sama sekali tidak punya daya untuk mencukupi kebutuhan harian,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membuka kembali akses yang terputus. Banyak titik penghubung antarkecamatan terisolasi akibat jalan amblas dan jembatan hanyut.
“Balai-balai PUPR harus bergerak cepat. Antar desa dan kecamatan harus tersambung kembali,” kata AHY, sambil menunjuk bekas badan jalan yang hilang tersapu banjir.
12 Kecamatan Masih Padam Total
Dalam pertemuannya
Comments 0