Foto: ist
KOSADATA – Siapa sangka, seutas benang sederhana bisa menjelma menjadi karya penuh makna. Seni merajut, yang kerap dianggap sekadar keterampilan rumah tangga, ternyata menyimpan sejarah panjang sekaligus manfaat besar bagi kesehatan dan kehidupan sosial.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merajut berarti membuat jaring atau kain dengan cara mengaitkan benang menggunakan jarum rajut atau jarum kait. Lebih dari sekadar aktivitas mengisi waktu, teknik ini terbukti mampu menghasilkan pakaian, aksesori, hingga barang fungsional lain yang bernilai ekonomis.
Melansir berbagai sumber, jejak awal merajut tercatat sejak abad ke-11. Artefak rajutan tertua ditemukan di Mesir, sementara teknik ini berkembang dari metode kuno seperti nalebinding. Perdagangan antarwilayah pada masa itu turut mempercepat penyebaran merajut ke daratan Eropa, menjadikannya keterampilan populer pada abad pertengahan.
Seiring waktu, merajut tak hanya dipandang sebagai tradisi, tetapi juga peluang usaha. Dari pakaian hangat, syal, hingga gantungan kunci, kreasi berbahan rajutan kini dilirik sebagai produk unik yang mampu mendatangkan keuntungan. Tak sedikit pengrajin yang menjadikan aktivitas ini sebagai sumber mata pencaharian.
Lebih dari itu, para ahli menyebut merajut mampu meredakan stres, kecemasan, hingga depresi. Aktivitas ini juga melatih konsentrasi, meningkatkan kreativitas, serta menjaga koordinasi mata dan tangan. Bahkan, rajutan disebut bisa membantu mencegah gangguan sendi seperti arthritis maupun tendinitis.
Kabar baik datang dari dunia terapi. merajut kerap digunakan untuk anak penderita ADHD. Dengan teknik ini, mereka dilatih mengenali dan mengendalikan gerakan tubuhnya sendiri, sekaligus menemukan ketenangan melalui ritme gerakan jarum dan benang.
Tak hanya bermanfaat secara individu, merajut juga punya sisi sosial. Aktivitas ini sering dilakukan berkelompok,
Comments 0