Foto: ist
KOSADATA — Kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang green technology diproyeksikan melonjak dalam beberapa tahun mendatang. Namun, pendidikan vokasi di Indonesia dinilai belum mampu mencetak lulusan dengan kompetensi yang sesuai tuntutan industri.
Ketua Komtap Pelatihan Vokasi Bidang Vokasi dan Sertifikasi Kadin Indonesia, Wisnu Wibowo, menyebut perubahan pola kebutuhan pasar kerja menuntut kurikulum vokasi yang lebih adaptif.
“Automation and robotic serta green technology akan sangat dibutuhkan di masa depan. Kompetensi ini harus disiapkan secara khusus,” ujarnya dalam Diskusi Terpumpun Kajian Pengembangan Pendidikan Vokasi, belum lama ini.
Berdasarkan proyeksi World Economic Forum, terdapat 170 juta jenis pekerjaan baru yang akan muncul, khususnya di sektor green economy, teknologi informasi, industri 4.0, serta kesehatan.
Wisnu menekankan perlunya modernisasi keahlian di SMK, misalnya program teknik mesin diarahkan ke smart manufacturing atau administrasi perkantoran bertransformasi ke digital business operations.
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, menambahkan lulusan SMK masih didominasi pekerjaan pada level tenaga usaha jasa dan penjualan.
“Untuk bisa naik ke level profesional, lulusan SMK harus memiliki standar kompetensi yang lebih agar bisa masuk ke bidang kerja spesifik,” katanya.
Hal senada disampaikan perwakilan Bappenas, Suprapto Budinugroho alias Cep Kiki. Ia menilai pendidikan vokasi, baik di SMK maupun perguruan tinggi vokasi, belum optimal dalam menghasilkan lulusan yang mudah terserap pasar kerja.
“Terdapat ketidaksesuaian tinggi antara bidang keahlian yang ditawarkan dengan jenis pekerjaan yang tersedia. Banyak SMK berkualitas rendah, terutama swasta,” ucapnya.
Cep juga menyoroti kualitas guru vokasi yang tidak selalu selaras dengan keahlian yang diajarkan. Menurut dia, kurikulum SMK masih serupa dengan SMA dan belum selaras
Comments 0