Foto: IG Zahra Arkandina
KOSADATA - Di ujung barat Papua, di Kabupaten Maybrat, Zahra menapaki jalan yang jarang dilalui anak muda seusianya. Perjalanan dari Jakarta ke Sorong ia tempuh empat jam dengan pesawat.
Dari Sorong, mobil membawanya menyusuri jalan Trans Papua selama enam jam. Masih ada satu setengah jam lagi menuju Desa Temel, tempat ia mengajar, melewati jalan beraspal mulus yang tiba-tiba berubah menjadi tanah kapur lepas.
“Ini pengalaman rantau pertama saya. Sekalinya merantau langsung ke Papua,” ujar Zahra Arkandina, Pengajar Muda yang ditempatkan selama setahun di Maybrat dalam akun Instagram Anies Baswedan, dikutip Senin, 29 September 2025.
Di desa itu, Zahra menemukan pelajaran hidup yang tak tercatat di buku sekolah. Hidup sederhana membuat orang tetap merasa cukup, meski seragam sekolah tak selalu tersedia, dan kebutuhan sehari-hari kerap hanya terpenuhi separuh.
“Saya lihat orang-orang di sana dengan segala keterbatasannya tetap bisa bersyukur. Itu bikin saya bertanya, kita di sini sebenarnya mengejar apa?” katanya.
Kehadiran jalan mulus di jalur utama Maybrat, kata Zahra, sering menipu pandangan. “Modernitas di jalan Trans Papua tampak nyata. Tapi begitu masuk ke desa-desa terdalam, kebutuhan mendasar justru banyak yang tertinggal,” ujarnya.
Pendidikan, contohnya, belum menjadi prioritas utama. Banyak anak-anak belum menganggap seragam sekolah sebagai sesuatu yang penting. Dari sisi ekonomi, warga yang sebagian besar berkebun masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Cerita Zahra menggema hingga ke Jakarta. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang ikut mendengar kisah para Pengajar Muda, menyinggung soal keadilan sosial. Menurutnya, tugas bangsa bukan hanya membangun jalan, melainkan memastikan hak-hak dasar warga
Comments 0