Lasem, Pesona Klasik Dua Kultur Jawa dan China

Peri Irawan
Aug 26, 2023

Salah satu klenteng di kota Lasem. Foto: ist

dekat sungai, terdapat bekas pintu air yang terbuat dari kayu jati.
Di sepanjang Sungai Bagan di Desa Dasun dapat ditemui kapal-kapal tempo dulu yang karam. Kapal-kapal itu terbuat dari kayu dan besi. Dua tahun lalu, ketika sungai surut sebagian bangkai kapal-kapal itu kelihatan. Namun sayangnya situasi itu kini jarang dijumpai karena sejumlah nelayan mengambil kayu dan besi bangkai-bangkai kapal itu dengan cara menyelam.


Konon galangan kapal di pantai Lasem itu milik Perusahaan Belanda Nieuw Zec. Galangan yang dibangun sekitar abad ke-16 itu memproduksi kapal besi. Galangan kapal di Sungai Bagan juga dibangun Belanda pada waktu yang hampir bersamaan. Galangan bernama Berenzen itu untuk memproduksi kapal kayu. Sementara satu galangan kapal lagi merupakan bangunan Jepang dan perluasan dari bangunan sebelumnya yang hancur pada saat Jepang pertama kali datang ke Lasem. Warga tempo dulu menyebut galangan itu sebagai Magezen.

 

Batik Tulis Hingga Wisata Kuliner
Ada banyak keistimewaan lain dari kota yang punya latar belakang dua etnis ini. Salah satunya adalah batik tulis hasil karya perpaduan Budaya yang sarat dengan cita rasa khas dan bermotif sangat nglasemi (pesisir). Singkronisasi dua unsur Budaya yakni Cina dan Jawa menghasilkan maha karya yang waskito dan unik.


Selain batiknya yang terkenal, bicara tentang kota Lasem juga berarti bicara soal sajian kulinernya yang nikmat dan ‘unik’. Sajian khas lontong Tuyuhan akan memberi sensasi lain. Lontong berbentuk segitiga dengan bungkus daun pisang ini disajikan dengan kuah opor plus potongan ayam kampung yang lumayan pedas.


Makanan lainnya yang terkenal adalah mangut khas Lasem, sayur mrica, kue gedumbeg, atau sate serepeh.


1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0