Foto: ist
Program Try Out KJP akan berlangsung dalam lima periode, mulai Oktober 2025 hingga Februari 2026, melibatkan 3.304 siswa dari 40 SMA negeri di Jakarta Timur. Pada tahap pertama, kegiatan diikuti enam sekolah negeri dan akan diperluas jika ada kolaborator baru.
“Ide awal program ini muncul dari aspirasi warga yang kesulitan membiayai kebutuhan bimbingan belajar. Banyak orang tua ingin anaknya kuliah, tapi biaya bimbel dan Try Out menjadi kendala,” kata Munjirin.
Sementara itu, pembina Naiju Academy, Taufik Rendusara, menilai Try Out KJP sebagai bukti nyata bahwa pendidikan adalah alat pemutus rantai kemiskinan. “Melalui simulasi UTBK, anak-anak penerima KJP mendapat kesempatan berlatih, mengukur kemampuan, dan membangun kepercayaan diri untuk bersaing masuk perguruan tinggi negeri,” ujarnya.
Menurut Taufik, selama ini akses bimbingan belajar dan Try Out berbayar hanya dinikmati kalangan mampu. Try Out KJP hadir untuk menutup kesenjangan tersebut agar kecerdasan tidak lagi diukur dari tebalnya dompet, melainkan dari semangat dan usaha.
Kehadiran Gubernur DKI Jakarta dalam peluncuran Try Out KJP menjadi simbol komitmen bahwa pemerintah provinsi serius mewujudkan pendidikan yang adil dan inklusif bagi seluruh anak Jakarta.
Harapannya, Try Out KJP tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, melainkan menjadi program utama Dinas Pendidikan DKI Jakarta di masa mendatang—agar tidak ada lagi anak miskin kota yang kehilangan mimpinya untuk kuliah dan mengubah nasibnya.***
Update terus berita terkini KOSADATA di Google News.
Comments 0