Foto: ist
KOSADATA - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Pariwisata FIB UGM melakukan pendampingan identifikasi potensi wisata di Padukuhan Banyumanik, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, sebagai langkah awal mengembangkan desa wisata berbasis masyarakat.
Padukuhan Banyumanik menyimpan denyut kisah yang jarang tersentuh wisatawan. Narasi-narasi lama tentang perjuangan mencari air, ritual budaya, hingga jejak sejarah lokal ternyata menjadi “aset tak terlihat” yang kini mulai dipetakan.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Pariwisata FIB UGM bersama Himpunan Mahasiswa Pariwisata (HIMAPA) mengajak warga duduk satu meja untuk merumuskan masa depan wilayah mereka sendiri. Yakni, mengembangkan destinasi wisata dengan narasi cerita atau story telling.
Semua bermula dari satu pertanyaan sederhana: apa sebenarnya kekuatan Banyumanik di tengah ekosistem Geopark Gunungsewu? Tim UGM melakukan pendampingan sejak Juli hingga Oktober 2025, berpusat di Banyumanik Research Center, pusat aktivitas warga yang kini mulai menjadi simpul pengetahuan desa.
“Inisiatif ini hadir untuk mendorong warga mengidentifikasi potensi wisata secara mandiri,” ujar Ketua Tim PkM Watusigar 2025, Yulita Kusuma Sari, dilansir dari laman resmi UGM, Selasa, 4 November 2025.
Ia menyebut kegiatan ini sebagai fondasi awal sebelum Banyumanik melangkah lebih jauh dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
Hasil temuan lapangan menunjukkan satu hal yang mencolok: warga Banyumanik sesungguhnya kaya cerita. Bukan cerita biasa—melainkan cerita yang menautkan sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari dalam narasi panjang yang diwariskan turun-temurun.
“Story telling menjadi kekuatan utama di sini. Ceritanya bisa ditarik menjadi tema budaya, sejarah, bahkan dikombinasikan. Potensinya kuat sekali,” kata Yulita.
Baginya, narasi bukan hanya daya tarik wisata, tetapi juga jembatan pengetahuan antargenerasi agar budaya Banyumanik tak terkikis waktu.
Gagasan itu
Comments 0