Foto: ist
KOSADATA — Lima hari menjelang genap satu tahun kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo pada 20 Februari 2026, arah kebijakan Pemprov DKI mulai menuai sorotan. Meski berulang kali menyatakan tak berambisi meninggalkan legasi pribadi, sejumlah langkah yang ditempuh justru dinilai berpotensi menjadi warisan penting bagi Jakarta.
Pengamat Kebijakan Publik, Sugiyanto atau SGY menilai pendekatan Pramono yang fokus menuntaskan persoalan lama kota menghasilkan dampak struktural.
“Ini yang sering disebut aneh tapi nyata. Ketika seorang pemimpin tidak sibuk membangun simbol legasi, justru dari situ lahir kebijakan-kebijakan yang berumur panjang,” kata Sugiyanto kepada wartawan, Minggu, 15 Februari 2025.
SGY mencontohkan penataan dan pemotongan tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said. Proyek yang terbengkalai lebih dari dua dekade itu kini dituntaskan demi kepastian hukum ruang kota, keselamatan publik, dan estetika kawasan. “Ini bukan sekadar pembongkaran fisik, tapi penegasan kewenangan tata ruang pemerintah daerah,” ujarnya.
Di sektor transportasi, penguatan akses menuju Jakarta International Stadium (JIS) yang dibangun pada era Anies Baswedan juga menjadi perhatian. Rencana integrasi KRL serta pembangunan jembatan penghubung ke kawasan Ancol dinilai menjawab persoalan utama JIS yang selama ini minim dukungan transportasi massal. “Kalau konektivitas ini terealisasi, JIS akan benar-benar berfungsi sebagai fasilitas publik, bukan sekadar bangunan megah,” kata SGY.
Penataan ulang kawasan Kalijodo, yang sebelumnya direvitalisasi pada masa Basuki Tjahaja Purnama, turut masuk daftar kebijakan strategis. Menurut SGY, penegasan kembali fungsi Kalijodo sebagai ruang terbuka hijau dan ruang interaksi sosial penting untuk menjaga kualitas ruang publik yang sempat menurun akibat lemahnya keberlanjutan pengelolaan.
Persoalan lahan eks Rumah Sakit Sumber Waras
Comments 0