Smart Integrated Farming ITPLN Berbasis PLTS Tingkatkan Pendapatan Petani di Cianjur

Abdillah Balfast
Feb 01, 2026

ITPLN menerapkan smart integrated farming berbasis PLTS di Kampung Gadog, Cianjur (Foto: dok ITPLN)

KOSADATA — Penerapan teknologi energi terbarukan oleh Institut Teknologi PLN (ITPLN) mulai memberi dampak nyata bagi peningkatan pendapatan petani. Melalui program Smart Integrated Farming berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), petani di Kampung Gadog, Kabupaten Cianjur, kini mampu mengolah hasil pertanian dan perikanan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Program ini dilaksanakan pada Senin (26/1/2026) sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) oleh tim Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan (FKET) ITPLN.

Mengusung tema “Pengembangan Smart Integrated Farming Berkelanjutan: Penerapan PLTS untuk Solar Dryer Dome, Hidroponik, dan Budidaya Ikan”, ITPLN menghadirkan sistem pertanian terpadu yang mengintegrasikan Solar Dryer Dome (SDD), hidroponik, dan budidaya ikan nila berbasis aquaponik dengan sumber energi utama dari panel surya.

Ketua tim pengabdian, Ersalia Dewi Nursita, menjelaskan pemanfaatan PLTS difokuskan untuk mendukung proses pascapanen dan kegiatan budidaya. Energi surya digunakan untuk mengoperasikan Solar Dryer Dome guna mempercepat pengeringan rempah-rempah serta menggerakkan pompa air otomatis pada kolam ikan.

“Energi matahari dimanfaatkan agar petani tidak lagi bergantung pada listrik konvensional maupun cuaca. Sistem ini juga saling terhubung karena air kolam ikan yang kaya nutrisi dialirkan ke instalasi hidroponik,” ujar Ersalia, Jumat (30/1/2026).

Menurutnya, sistem terintegrasi ini mampu menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi, serta menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat karena minim penggunaan bahan kimia.

Manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh warga. Harun, petani Kampung Gadog, mengatakan kehadiran Solar Dryer Dome menjadi solusi atas persoalan klasik pengeringan hasil panen.

“Sebelumnya kami menjual rempah dalam bentuk glondongan dengan harga murah karena butuh


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0