Tidak Perlu Berlebihan dalam Membela Anies Baswedan

Ichsan Sundawani
Jul 24, 2023

Oleh: Agustinus Tamtama Putra

Pengamat Kebijakan Publik GMT Institute

KOSADATA - Tulisan ini teruntuk bagi orang-orang di belakang Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta. Mari menggunakan logika sederhana, jika A = B dan B = C maka tak terbantahkan bahwa A = C. Namun jika A = B dan B ≠ C maka jelas bahwa A ≠ C. Demikian pula ketika Anies Baswedan selalu dibanding-bandingkan dengan Heru Budi Hartono. Premis mana yang kiranya berlaku?

Mari kita coba yang pertama. Jika Anies Baswedan hendak disamakan dengan Heru Budi Hartono, saya yakin bahwa Anda tidak akan mau. Namun agaknya ada kecenderungan untuk memaksakan bahwa Heru Budi Hartono harus seperti Anies Baswedan dengan mengatakan bahwa “seorang penjabat gubernur meneruskan program gubernur sebelumnya.”

Pertanyaannya, bagaimana meneruskan program yang menelan banyak dana namun tidak terlalu bermanfaat seperti misalnya patung sepatu? Masih banyak lagi proyek lain yang kiranya bisa dikritisi di masa pemerintahan Anies Baswedan, jika hendak melihat terus-menerus kesalahan dan kelemahan sembari menisbikan hal-hal dan program yang baik.

Kedua, premisnya akan berbunyi “Heru Budi Hartono tidak sama dengan Anies Baswedan.” Hal ini sudah jelas dengan sendirinya, clara et distincta, dalam terminologi epistemologi Kartesian. Maka tidak perlu kiranya memaksakan kehendak dengan mengatakan bahwa Heru Budi Hartono harus sama dengan Anies Baswedan karena mereka memang berbeda dari segi gaya, visi dan cara membangun DKI Jakarta.

Perbedaan ini bukan berarti juga kemudian seperti yang dinarasikan bahwa Heru Budi Hartono adalah antitesis dari Anies Baswedan. Penyimpulan keputusan dalam logika semacam


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0