Tidak Perlu Berlebihan dalam Membela Anies Baswedan

Ichsan Sundawani
Jul 24, 2023

ini rentan bias dan cenderung fallacy. Yang diperlukan di tahap ini ialah pandangan yang luas dan komprehensif dalam membaca teks.

Teks yang dimaksudkan selalu punya (kon)teks yang dalam hermeneutika harus dipilah-pilah bukan berdasarkan sentimental, melainkan logis-rasional. Membaca Heru Budi Hartono dan Anies Baswedan adalah membaca teks yang memerlukan analisis dan daya kritis. Sikap fanatis, oportunis dan prejudis tentu tidak menunjukkan kedewasaan dalam hidup bersama.

Sekarang mari bicara tentang realitas politik yang jujur saja, kita tahu sama tahu, bahwa sebelum berpolitik kita harus terbebas lebih dahulu dari urusan perut. Hanya saja dalam praktek setiap kita bukan hanya butuh makan, tetapi juga—tanpa harus munafik—akan tergiur bila ada uang alias dananya.

Uang itu tentu tidak salah, bahkan perlu untuk kebutuhan dan realisasi hidup. Akan tetapi pertanyaannya, uang seperti apa yang kita peroleh dalam bekerja? Apakah masih etis atau bernilai manakala uang yang kita dapatkan untuk keluarga tercinta bersumber dari kebencian dan mungkin fitnah tidak berdasar yang kita lontarkan terkait seseorang? 

Atau sebaliknya uang itu diperoleh dari sumber-sumber tertentu yang diperuntukkan guna menaikkan elektabilitas politik namun dengan pendakuan-pendakuan yang sebenarnya juga tidak efektif, misalnya “lapangan sepakbola sintetis ingub…” Sejak kapan nama lapangan sepakbola bernuansa politis semacam itu sekalipun milik pemerintah daerah? Lagipula nama lapangan yang demikian tidak mudah untuk diingat.

Cara-cara lain bisa ditempuh dan tidak masalah dengan itu namun menjadi tidak etis. Berdasarkan hasil survei, kepuasan masyarakat Jakarta di era Heru Budi Hartono memang tinggi.

Hal ini tidak perlu dirisaukan atau membuat pendukung Anies Baswedan kebakaran jenggot sebab memang Heru Budi Hartono bekerja keras


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0