Fransiscus Go, Foto: Ist
"Bagus," ujar beta. Tapi, ayo dong membuat sesuatu yang lebih buat NTT. Naif bagi beta, bilang masih ngaku - ngaku orang Toraja. Sebab, sudah puluhan tahun di Kota Kupang. Sudah NTT banget. Pun, kulit hitam mangustan karena berdarah Sabu. Pendidikan menurut beta yang mesti dibenahi.
Jika, kita mengharapkan NTT keluar dari masalah ketertinggalan. Bak gerbong kereta api, jelas ku sedikit menggurui, bila lokomotifnya tidak handal dan cakap, maka gerbong - gerbong seperti kemiskinan, ketertinggalan, terbelakang dan lain sebagainya, tidak bisa ikut tertarik.
Alasan ku menawarkan pendidikan sebagai leading sektor, jika Fransiscus Go benar - benar mau keluar dari "zona nyaman" menjadi pemimpin di Nusa Tenggara Timur, maka benahi pendidikan. Beta terinspirasi Kaisar Jepang, Hirohito. Ketika Hiroshima dan Nagasaki luluh lantah di bom - atom Sekutu, sang kaisar tak patah arang.
Di depan rakyatnya yang tersisa, Hirohito menanyakan, berapa guru yang masih sisa? Dia begitu yakin, Jepang yang telah hancur, kelak akan berjaya lagi. Terbukti, dengan semangat yang tersisa, Pemerintah Jepang lalu membenahi pendidikan mereka. Kini, kiblat teknologi Jepang menjadi referensi masyarakat dunia.
Tidak berlebihan, jika sosok Fransiscus Go mau belajar dari sikap Kaisar Hirohito. Demi, kemajuan NTT tercinta. Sudah 65 tahun usia Provinsi NTT. Sebagai pimpinan sejumlah perusahaan, Fransiscus Go yang merupakan putra asli Timor Tengah Utara (TTU), telah berkontribusi bagi daerah ini. Bukan baru sekarang. Tapi sudah belasan tahun silam. Di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan kesehatan.
Sikapnya yang tak ambisius, membuatnya tetap enjoy dan tak terbebani. Satu hal yang membuat
Comments 0