Eifie Julian Hikmah. Foto: dok. UGM
Berawal dari Penjual Es Krim, Lari Menuju Panggung Nasional
Pertemuannya dengan Karmani, seorang pelatih atletik yang juga berjualan es krim keliling, menjadi titik balik hidup Eifie. “Awalnya saya cuma beli es. Tapi, beliau ternyata sudah memperhatikan saya sejak kelas 1 SD,” kata Eifie.
Karmani menawarkan Eifie untuk ikut latihan. Dunia atletik yang awalnya asing, perlahan menjadi panggung tempatnya menemukan diri. Meski awal latihan hanya mengenakan sepatu sekolah, semangat Eifie tak pernah surut.
Kompetisi pertamanya menjadi babak perjuangan tersendiri. Uang untuk membeli sepatu paku tidak mencukupi. Farid, sang ayah, berjuang mencari tambahan di tengah keterbatasan. Akhirnya, dengan sepatu paku pertamanya, Eifie meraih juara dua di Kejuaraan Walikota Cup Surabaya.
Sejak itu, Eifie tak berhenti berlari. Lintasan 100, 200, 400 meter, hingga lompat jauh dan tolak peluru ia jajal. Namun, tantangan terberat baginya bukanlah lawan, melainkan rasa takut dan grogi yang kerap menyerang jelang lomba. Ia pernah kalah hanya karena selisih 0,0 detik di 50 meter terakhir, momen yang membuatnya menangis sesenggukan.
Ujian terbesar datang saat ayahnya meninggal dunia, sebulan sebelum Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2024. Mentalnya goyah. Di ajang itu, ia gagal meraih emas. Tapi Eifie bangkit, menutup lomba dengan perunggu di nomor 400 meter.
“Di Palembang (Pekan Paralimpik Pelajar Nasional 2023), aku justru dapat emas di lompat jauh. Itu pengalaman yang nggak akan kulupa,” katanya.
Menuntaskan Mimpi Sang Ayah di Kampus Biru
Keinginan untuk kuliah bukan ambisi tiba-tiba.
Comments 0