Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Foto: ist.
KOSADATA — Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang juga veteran pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), menekankan pentingnya kepemimpinan yang tangguh dan kewaspadaan tinggi dalam menjalankan misi perdamaian dunia.
Hal tersebut disampaikan Iftitwh saat memberikan tanggapan terkait gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon.
“Izinkan saya untuk menyampaikan duka cita yang mendalam serta bela sungkawa kepada tiga prajurit TNI yang gugur. Ancaman utamanya adalah ketidakpastian, sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan dan kemampuan pengambilan keputusan yang tepat oleh setiap prajurit di lapangan,” kata Iftitah dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Senin, 6 April 2026.
Mentrans yang pernah bertugas di Lebanon pada 2006–2007 itu menjelaskan bahwa tugas pasukan perdamaian tidak sesederhana yang terlihat. Meski mandatnya adalah menjaga perdamaian, pelaksanaan di lapangan sangat kompleks dan penuh risiko.
“Tugas dari pasukan perdamaian sebetulnya adalah menjaga perdamaian itu sendiri. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, pelaksanaannya di lapangan tidak semudah itu,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa mandat UNIFIL merujuk pada Piagam PBB Chapter VI dan Chapter VII, dengan kompleksitas yang lebih luas. Situasi di lapangan sering fluktuatif, di permukaan tampak biasa saja, tetapi sewaktu-waktu dapat meningkat menjadi eskalasi besar.
“Kita sebagai veteran perdamaian sering mengutip Resolusi 1701 sebagai Chapter 6,5. Hal ini memberikan sinyal bahwa situasi UNIFIL sangat rentan dan laten terhadap potensi konflik besar,” katanya.
Menteri Iftitah menegaskan bahwa pendekatan dalam operasi perdamaian berbeda dengan operasi tempur. Senjata yang dibawa prajurit bukan untuk menyerang, melainkan untuk membela diri.
“Di sana kita pergi bukan untuk berperang, tetapi untuk menjaga perdamaian.
Comments 0