Foto: dok. BRIN
KOSADATA — Indonesia memang tak lagi mencatat wabah pes pada manusia dalam lebih dari satu dekade terakhir. Namun, para peneliti mengingatkan: ketiadaan kasus bukan berarti ancaman telah hilang.
Penyakit pes, yang disebabkan bakteri Yersinia pestis, pernah menghantam Pulau Jawa pada awal abad ke-20 dan dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. Penularannya terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menyebut kondisi saat ini kemungkinan merupakan fase silent period—masa ketika penyakit tidak terdeteksi, tetapi masih berpotensi muncul kembali.
“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” ujar Ristiyanto seperti dilansir laman resmi BRIN, Senin, 13 April 2026.
Menurut dia, indikasi tersebut diperkuat oleh temuan bakteri penyebab pes beserta vektor dan reservoirnya—yakni pinjal dan tikus—yang masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Perubahan lingkungan disebut menjadi faktor krusial. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk dinilai telah mengganggu keseimbangan ekosistem. Akibatnya, habitat tikus kian mendekat ke permukiman manusia.
“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan peneliti BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat. Ia menyoroti peran perubahan iklim yang turut mendorong peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” kata Choirul.
Ia menegaskan, tikus sebagai reservoir utama bakteri masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan ke manusia tetap mungkin terjadi
Comments 0