Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara berdialog dengan penduduk Rempang. Foto: IG Kementrans
Sore menjelang malam, kami tiba di Kampung Pasir Merah. Sebuah kawasan di mana sebagian warga dengan tegas menolak relokasi. Aksi penolakan berlangsung terbuka saat kami datang. Tapi Pak Menteri dan jajaran, termasuk Pak Walikota dan Wakil Walikota Batam, tidak menghindar. Mereka turun dari mobil, menghampiri para pendemo, dan berkata pelan tapi tegas: “Kami hadir untuk mendengar.” Tidak semua keluhan bisa langsung dijawab hari itu. Tapi satu hal yang pasti: semuanya dicatat, dan semuanya diterima dengan penuh hormat.
Malamnya, kami berbuka puasa bersama Wakil Walikota Batam di sebuah restoran seafood sederhana di Pulau Rempang. Makanannya enak, suasananya hangat. Setelah itu, Pak Menteri berdialog dengan jurnalis dan menggelar briefing internal di rumah hunian tempat beliau menginap. Hari pertama ditutup dengan kesederhanaan, tapi juga ketulusan.
Hari Kedua – 30 Maret 2025
Pukul 04.30 pagi, Pak Menteri sudah bersiap menuju Masjid di Pasir Merah untuk sholat subuh berjamaah. Usai ibadah, beliau kembali ke Eco Park. Suasana pagi mulai hidup. Beberapa warga sudah memulai aktivitas, termasuk berkebun hidroponik. Ada kehidupan yang tumbuh, dan ada semangat yang tak bisa disembunyikan—semacam harapan baru yang sedang dicoba dirajut pelan-pelan.
Setelah berganti pakaian, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama warga calon transmigran, disusul pemotongan sapi dan penyerahan bingkisan dari Presiden. Siang harinya, kami bersama Ibu Wakil Walikota yang setia terus mendampingi kegiatan kami, berkunjung ke Kampung Pasir Panjang. Di aula masjid, Pak Menteri kembali duduk melantai bersama warga. Tidak untuk membujuk. Tapi untuk membuka ruang
Comments 0