Foto: ist
KOSADATA — Hubungan antara Al-Qur’an dan sains kembali mencuat sebagai perbincangan menarik. Bukan sekadar soal membuktikan kitab suci dengan teori ilmiah, diskusi ini merambah ke persoalan cara berpikir umat Islam dalam membaca teks suci di era modern.
Pandangan itu diutarakan M. Syifa Amin Widigdo, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam monolog di kanal YouTube Wonderhome Library, Sabtu (12/7/2025). Mengacu pada gagasan Nidhal Guessoum, akademisi Aljazair yang pernah bekerja di NASA, Syifa mengurai dua pendekatan yang kerap digunakan dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an melalui kacamata sains.
“Ada ijaz ilmi dan tafsir ilmi. Keduanya punya pendekatan berbeda dalam memaknai relasi Al-Qur’an dan sains,” ujar Syifa dilansir laman resmi Muhammadiyah, Senin, 14 Juli 2025.
Pendekatan ijaz ilmi berangkat dari keyakinan bahwa Al-Qur’an telah memuat fakta-fakta ilmiah yang baru bisa dibuktikan sains modern berabad-abad kemudian. Gagasan ini sempat populer lewat tokoh seperti Maurice Bucaille dan Zaghlul An-Najjar. Syifa mencontohkan tafsir atas ayat Surah Al-Qamar tentang terbelahnya bulan, yang kerap dikaitkan dengan foto permukaan bulan dari NASA.
Namun, menurut Guessoum, pendekatan semacam ini mengandung risiko. Tafsir tekstual semata cenderung memaksakan kebenaran tunggal dan menafikan penjelasan ilmiah yang lebih kompleks. Lekukan di permukaan bulan, misalnya, terbukti merupakan akibat dari aliran lava kuno, bukan bekas keterbelahan literal.
Di sisi lain, pendekatan tafsir ilmi menawarkan cara pandang yang lebih terbuka. Al-Qur’an dipahami memiliki lapisan makna yang bisa diakses sesuai perkembangan pengetahuan manusia, termasuk temuan sains mutakhir. Syifa menegaskan, tafsir ini tidak menempatkan sains sebagai alat pembuktian, melainkan sebagai jendela untuk memperkaya
Comments 0