Foto: dok. BRIN
KOSADATA — Tumpukan sampah yang selama ini dianggap masalah, kini mulai dilirik sebagai sumber energi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi berbasis sains untuk mengolah sampah menjadi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Perekayasa Ahli Madya BRIN, Wiharja, menyebut pendekatan ini menjadi solusi ganda atas krisis sampah dan kebutuhan energi nasional. Hal itu disampaikan dalam forum Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, Jakarta.
“Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di Indonesia, tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, tetapi juga hingga ke tingkat desa,” ujar Wiharja seperti dilansir laman resmi BRIN, Jum'at, 17 April 2026.
Menurut dia, dampak sampah tak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi memicu bencana. Karena itu, dibutuhkan solusi yang tidak sekadar mengurangi sampah, melainkan juga memberi nilai tambah.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mengolah sampah menjadi energi listrik melalui PLTSa. Namun, Wiharja menegaskan bahwa listrik bukan tujuan utama.
“Listrik itu bonus. Yang utama adalah bagaimana mengolah dan mengurangi sampah secara efektif,” katanya.
Ia menjelaskan, proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, mulai dari material bernilai, residu, hingga limbah berbahaya.
Setelah itu, sampah dimasukkan ke bunker sebelum dibakar pada suhu tinggi minimal 850 derajat Celsius. Proses ini dilakukan secara mekanis untuk meminimalkan risiko terhadap manusia.
Panas dari pembakaran kemudian digunakan untuk mengubah air menjadi uap bertekanan tinggi. Uap tersebut menggerakkan turbin yang terhubung dengan generator hingga menghasilkan listrik.
“Alurnya sederhana, sampah dibakar jadi panas, panas jadi uap, uap memutar turbin, lalu menghasilkan
Comments 0