Ade Rahmat (Penulis) ketika berdiskusi serius di Agenda Turba PP. Pemuda Persis.
KOSADATA- Menjelang perhelatan Muktamar Pemuda Persatuan Islam (Persis) 2026, ruang publik jamiyyah diwarnai oleh eskalasi diskursus intelektual yang cukup masif. Berbagai tawaran konseptual mengenai potret pemimpin ideal silih berganti dilempar ke gelanggang wacana. Ada pendekatan sosiologis yang menuntut hadirnya figur akomodatif pengorkestrasi tiga kekuatan pilar pergerakan; ada pendekatan struktural yang menitikberatkan pada urgensi instrumen sistem dan metodologi objektif; hingga pendekatan teologis yang mematok standar kepemimpinan pada integrasi karakter ideal: berilmu, bertakwa, dan berpengaruh. Secara akademis dan normatif, diskursus tersebut tersusun dengan gramatika yang sangat indah dan argumentasi yang solid. Namun, ketika pisau analisis tersebut dihadapkan pada realitas empiris di akar rumput, seluruh wacana tersebut tampak mengidap satu kecacatan epistemologis yang sama: terjebak pada utopisme konseptual dan mengalami diskoneksi total dengan kondisi objektif ketersediaan kader hari ini.
Terdapat sebuah pertanyaan fundamental yang absen dari seluruh perdebatan kaum elite tersebut: bagaimana jika seluruh kriteria ideal dan prasyarat kepemimpinan tingkat tinggi itu faktanya tidak berwujud pada stok kader yang akan meneruskan estafeta kepemimpinan esok hari? Jika sang nakhoda ideal yang diidam-idamkan itu hanyalah sebuah fiksi sosiologis, lantas legitimasi apa yang mendasari urgensi Muktamar 2026 selain sekadar ritus sirkulasi kekuasaan prosedural?
Mari kita melakukan Dekonstruksi secara objektif terhadap narasi-narasi besar yang selama ini dibanggakan, dimulai dari kebanggaan atas trikotomi pilar kader.
Pertama, narasi mengenai pilar ke-Ulamaan. Ekspektasi bahwa para Ulama muda Persis secara otomatis mampu menjadi nakhoda gerakan sering kali berbenturan dengan anomali kepemimpinan organisatoris. Realitas menunjukkan bahwa kecakapan membedah teks-teks keagamaan klasik tidak senantiasa berbanding lurus dengan kecakapan memimpin organisasi di tingkat nasional.
Comments 0