Foto penunjang: Tradisi musyawarah dan diskusi ilmiah Pemuda Persia.
KOSADATA- Perdebatan itu datang di suasana yang hangat, hampir seperti obrolan lama yang tiba-tiba hidup kembali di tengah perjalanan pulang. Di antara kemacetan panjang arus mudik Lebaran, ketika kendaraan berjalan tersendat dan waktu seolah melambat, saya membuka dua tulisan dari dua sosok yang tidak asing Keduanya adalah kakak kelas di PPI 32 Ciawi, tempat di mana tradisi berpikir, berdiskusi, dan berdebat telah lama menjadi bagian dari pembentukan diri. Ada rasa yang berbeda saat membaca tulisan mereka di tengah situasi seperti itu. Bukan sekadar membaca opini, tetapi seperti sedang menyimak percakapan yang pernah hidup di ruang-ruang asrama, di sela-sela kajian, atau dalam forum-forum kecil yang penuh gairah intelektual.
Kedua ‘Aa’ saya itu tidak sekadar asal berbicara atau menulis, saya rasa sedang saling menguji, saling mengoreksi, bahkan saling menegaskan batas-batas cara berpikir dalam membaca realitas Pemuda persis hari ini. Dalam tradisi Jam’iyyah Persatuan Islam yang sejak awal menempatkan ilmu (‘ilm), amal (‘amal), dan dakwah sebagai satu kesatuan. Perdebatan semacam ini bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari dinamika muktamar yang tidak memperdebatkan kepentingan siapa yang bisa diamankan, tapi justru menghidupkan ruh gerakan. Namun demikian, semakin dalam membaca, terasa bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar perbedaan pendapat dalam tubuh Pemuda persis, melainkan sesuatu yang lebih mendasar dan struktural.
Pada titik inilah tulisan ini menemukan pijakannya. Perdebatan tersebut, jika dibaca dengan lebih teliti, sesungguhnya memperlihatkan adanya ketegangan epistemologis dalam tubuh Pemuda persis sebagai entitas Kader dari Jam’iyyah Persatuan Islam. Yakni perbedaan dalam cara memahami, membaca, dan memaknai realitas gerakan itu
Comments 0