Jajang Hidayatullah, M.Ag., penulis: Sekretaris Bidang Pendidikan Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam (PERSIS)
KOSADATA- Tulisan ini disusun sebagai bentuk penghargaan sekaligus tanggapan Kritis atas gagasan yang disampaikan oleh Andri Nurkamal, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda persis Kabupaten Tasikmalaya. Di sela-sela perjalanan mudik Idul Fitri yang penuh kehangatan dan nuansa rindu akan kampung halaman, pada hari Rabu, 25 Maret 2026 sekitar pukul 15.13, saya menerima sebuah tautan dari Kosadata.com yang memuat tulisan adinda Andri Nurkamal yang berjudul: “Muktamar Pemuda persis XIV, Titik Temu Realitas Kader Dan Objektivitas Kepemimpinan”. Di tengah hiruk-pikuk perjalanan, antara lelah yang berseling dengan harap untuk segera berjumpa keluarga, saya menyempatkan diri membuka dan membaca tulisannya dengan perlahan. Ada rasa hangat yang berbeda—seolah obrolan panjang di ruang-ruang diskusi kader kembali hidup menyala.
Secara umum, gagasan yang dihadirkan menunjukkan keseriusan dalam membaca dinamika internal jam’iyyah menjelang Muktamar XIV. Nuansa reflektif dan analitis yang dibangun patut diapresiasi sebagai bagian dari tradisi Intelektual yang hidup dalam tubuh Pemuda persis. Terlebih, upaya mengidentifikasi tiga pilar utama—Ulama, Intelektual, dan Aktivis—menunjukkan adanya kesadaran atas kompleksitas sumber daya kader. Namun demikian, sebagai bagian dari tradisi ilmiah dalam Islam yang menjunjung tinggi prinsip al-naqd al-bannā’ (kritik konstruktif), beberapa poin dalam tulisan tersebut perlu dikaji ulang secara lebih mendalam agar tidak terjebak pada simplifikasi konseptual maupun bias penalaran yang berpotensi menimbulkan problem baru dalam praksis organisasi.
Pendahuluan tulisan tersebut secara retoris berhasil membangun kesadaran kolektif bahwa Muktamar XIV bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum historis. Akan tetapi, framing “beban sejarah yang teramat berat” perlu ditinjau ulang secara epistemologis. Dalam tradisi Islam, sejarah tidak semata dipahami
Comments 0