Andri Nurkamal, Penulis: Ketua PD. Pemuda Persis Kab. Tasikmalaya.
KOSADATA- Membaca “Catatan Kritis” dari Ustadz Jajang Hidayatulloh—yang ditulis di sela-sela syahdunya perjalanan mudik Idul Fitri 1447—memberikan oase tersendiri bagi diskursus intelektual di tubuh Pemuda Persatuan Islam (Persis). Bagi saya pribadi, Ustadz Jajang bukan sekadar Sekretaris Bidang Pendidikan PP Pemuda Persis, melainkan seorang kakak tingkat (raka) saat kami bersama-sama menimba ilmu di Pesantren Persis 32 Panyusuhan, Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya.
Pertukaran pemikiran yang terbuka dan bernas ini sesungguhnya merupakan manifestasi dari tradisi luhur pesantren Persis: sebuah mujadalah (dialektika) ilmiah yang terus dihidupkan, semata-mata untuk menguji gagasan demi mendekati kebenaran ilmu yang paling akurat.
Oleh karena itu, mengayuh perahu dialektika ini menuntut presisi yang ketat. Setelah menelaah dengan saksama pisau analisis yang digunakan oleh Ustadz Jajang, saya melihat ada beberapa fondasi teoritis yang perlu didudukkan kembali bersama. Bukan sekadar untuk membela gagasan awal saya, melainkan untuk meluruskan kerangka berpikir agar kita tidak terjebak pada kekeliruan pembacaan (category mistake) dalam melihat realitas pergerakan.
Jebakan Positivisme: Membedah Opini dengan Pisau Jurnal Ilmiah
Kritik pertama yang perlu dijawab adalah tuntutan akan “data empiris yang spesifik” serta penolakan terhadap “generalisasi tanpa diferensiasi konteks.” Pendekatan ini pada dasarnya menggunakan standar metodologi ilmiah formal untuk menilai sebuah esai reflektif.
Di sinilah letak perbedaan pendekatan yang perlu kita dudukkan bersama. Tulisan opini pergerakan tidak bekerja dengan logika yang sama seperti jurnal akademik kuantitatif. Ia tidak bertumpu pada angka dan survei semata, melainkan pada pembacaan realitas sosial secara lebih luas—melalui pengamatan, pengalaman, dan keterlibatan langsung dalam dinamika gerakan.
Menempatkan tuntutan data statistik empiris yang spesifik pada sebuah tulisan opini sosiologis-filosofis berpotensi membawa kita pada apa
Comments 0