Senja Emas di Watu Karung, Bikin Perantau Enggan Kembali ke Kota

Indriani Siti Rahmani
Mar 25, 2026

Foto: FB Subekti

KOSADATA-Langit perlahan meredup di ufuk barat Pantai Watu Karung. Sisa cahaya matahari membias di sela awan, memantul di permukaan laut yang tenang, sementara siluet karang-karang besar berdiri kokoh seperti penjaga waktu. 

Di pasir yang hangat, langkah kaki wisatawan berjejak ringan—sebagian duduk beralas tikar, sebagian lagi sibuk mengabadikan momen yang terasa terlalu singkat untuk dilewatkan.

Di bawah rindang pohon pandan laut, sekelompok keluarga tampak bercengkerama. Anak-anak berlarian mengejar ombak kecil, sementara orang dewasa menikmati bekal sederhana. Suasana hangat itu terasa begitu lekat, seolah waktu berjalan lebih lambat di sudut selatan Pacitan ini.

Bagi banyak orang, Watu Karung bukan sekadar pantai. Julukan “Raja Ampat-nya Pacitan” melekat bukan tanpa alasan. Formasi batu karang yang tersebar di tengah laut menghadirkan panorama eksotis, mengingatkan pada gugusan pulau di Raja Ampat. 

Namun di sini, keindahan itu berpadu dengan nuansa yang lebih bersahaja—tanpa hiruk pikuk berlebihan.

Subekti (56), warga Jakarta, tampak duduk santai di atas tikar bersama keluarganya. Ia pulang kampung untuk merayakan Lebaran, dan Watu Karung menjadi destinasi wajib yang tak pernah absen dari daftar kunjungannya.

“Setiap Lebaran saya sempatkan ke sini. Rasanya beda, lebih tenang. Kalau di Jakarta kan semuanya serba cepat. Di sini, kita bisa benar-benar istirahat,” ujar Subekti, sembari menatap laut yang mulai gelap, kemarin.

Ia mengaku, keindahan Watu Karung tak kalah dari destinasi wisata kelas dunia. Bahkan, menurutnya, justru ada nilai emosional yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Kalau orang bilang ini seperti Raja Ampat, saya setuju. Tapi buat saya, ini lebih dari itu. Ini kampung halaman,” katanya, tersenyum tipis.

Menjelang petang, warna langit berubah menjadi jingga


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0