Andri Nurkamal, Penulis: Ketua PD. Pemuda Persis Kab. Tasikmalaya.
Ketika saya menyebut adanya krisis multidimensi—seperti banalitas politik dan kerusakan ekologis—yang dimaksud adalah pembacaan terhadap gejala besar yang memang dirasakan secara luas. Menuntut pembuktian empiris lokal atas isu-isu makro peradaban dalam konteks tulisan seperti ini berisiko mempersempit cakrawala visi besar Pemuda Persis itu sendiri. Jam’iyyah ini tidak hanya dituntut responsif terhadap realitas lokal, tetapi juga peka terhadap dinamika peradaban yang lebih luas.
Tiga Pilar sebagai Ideal Type, Bukan Sekat Kaku
Kritik berikutnya menyasar kategorisasi Ulama, Intelektual, dan Aktivis yang dianggap terlalu kaku, dengan argumen bahwa dalam realitasnya ketiganya berada dalam satu spektrum yang cair.
Pandangan ini memiliki kekuatan secara normatif—bahwa seorang kader idealnya mampu mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut. Namun, dalam membaca realitas sosial, kita tetap memerlukan perangkat analisis untuk memahami kecenderungan yang dominan.
Dalam konteks ini, kategorisasi yang saya ajukan dapat dipahami sebagai ideal type (tipe ideal), sebagaimana diperkenalkan oleh Max Weber. Ia bukan sekat yang membatasi, melainkan alat bantu analitis untuk membaca kompleksitas realitas sosial.
Tentu saja, dalam praktiknya, seorang ulama bisa berperan sebagai aktivis, dan seorang aktivis dapat mendalami tradisi keilmuan. Namun, pada level struktur, orientasi, dan kecenderungan gerakan di akar rumput, tipologi dominan tetap dapat dikenali. Mengabaikan hal ini berpotensi membuat kita luput membaca dinamika sosiopolitik yang memang hidup dalam tubuh Pemuda Persis.
Dengan memahami perbedaan kecenderungan ini, seorang pemimpin justru dapat merumuskan strategi pembinaan yang lebih tepat sasaran,
Comments 0