Catatan Kritis Pemuda Persis, Kelemahan Metodologis yang Jarang Disadari

Indriani Siti Rahmani
Mar 26, 2026

Jajang Hidayatullah, M.A.g., Sekretaris Bidang Pendidikan PP. Pemuda Persis. Foto: dok. pribadi untuk kosadata

Oleh: Jajang Hidayatullah, M.A.g. 

Sekretaris Bidang Pendidikan PP. Pemuda Persis

Di tengah dinamika intelektual yang berkembang di tubuh Pemuda Persis, perbedaan pandangan bukanlah sesuatu yang perlu dihindari. Sebaliknya, ia menjadi ruang produktif untuk menguji ketajaman berpikir sekaligus menjaga tradisi ilmiah tetap hidup. Dalam konteks itulah, respons yang disampaikan oleh Ketua PD Pemuda Persis Kabupaten Tasikmalaya, Andri Nurkamal, layak diapresiasi sebagai bagian dari tradisi mujādalah ‘ilmiyyah yang sehat. Namun, apresiasi tersebut tidak menutup kebutuhan akan pelurusan—demi menjaga kejernihan metodologis dan akurasi analisis.

Pada titik pertama, penting ditegaskan bahwa perbedaan metodologis tidak serta-merta menghapus tuntutan ketepatan epistemologis. Dalam khazanah keilmuan Islam, integrasi antara refleksi konseptual (al-naẓar) dan verifikasi faktual (al-taḥqīq) adalah prinsip dasar. Kritik terhadap kecenderungan generalisasi bukanlah jebakan positivisme, melainkan upaya menjaga analisis tetap berpijak pada fiqh al-wāqi’. Tanpa itu, gagasan berisiko menjadi spekulatif dan terlepas dari realitas praksis organisasi.

Lebih jauh, pelabelan kritik sebagai “positivistik” juga perlu ditinjau ulang. Positivisme, dalam pengertian filosofis, mereduksi kebenaran pada aspek empiris semata. Sementara yang ditekankan di sini justru kebutuhan taqyīd al-ma‘nā—pembatasan makna agar tidak terjadi inflasi konsep. Dalam tradisi ushul fikih, ketidakjelasan batas konsep dapat memicu iḍṭirāb al-ḥukm atau ketidakstabilan penilaian. Karena itu, diferensiasi konteks bukanlah penyempitan, melainkan penguatan validitas analisis.

Pendekatan fenomenologis yang digunakan untuk membenarkan generalisasi juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Pengalaman subjektif memang penting, tetapi dalam epistemologi Islam, ia tidak berdiri sendiri tanpa verifikasi. Prinsip al-khabar al-ṣādiq menuntut kejelasan sumber dan validitas informasi. Tanpa mekanisme klarifikasi, pembacaan terhadap zeitgeist rawan terjebak dalam persepsi personal yang diangkat seolah menjadi realitas kolektif.

Dalam


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0