Andri Nurkamal, Penulis: Ketua PD. Pemuda Persis kab. Tasikmalaya.
KOSADATA- Menjelang April 2026, suhu diskusi di ruang-ruang percakapan kader Pemuda Persatuan Islam mulai terasa menghangat. Dari grup WhatsApp hingga obrolan larut malam di kedai kopi usai kajian, topiknya bermuara pada satu titik yang sama: Muktamar Pemuda persis XIV. Ini bukan sekadar rutinitas lima tahunan atau sekadar ajang sirkulasi elit struktural di tingkat pusat. Muktamar kali ini membawa beban sejarah yang jauh lebih berat, karena ia hadir di tengah transisi zaman yang menuntut relevansi nyata dari sebuah jamiyyah. Jika kita mau jujur dan melihat ke bawah, mengamati dinamika di akar rumput dari tingkat cabang hingga daerah, ada sebuah realitas objektif yang sangat menarik untuk direnungkan. Wajah Pemuda persis hari ini tidak lagi tunggal. Rahim jamiyyah ini telah melahirkan dan mematangkan tiga varian kader dengan kekuatan besar yang saling melengkapi. Tiga kekuatan itu adalah tradisi ke-Ulamaan, kapasitas Intelektual-Akademik, dan daya gedor para Aktivis yang bergerak di wilayah sosial, ekonomi, dan politik. Oleh karena itu, pertanyaan terbesarnya menjelang Muktamar nanti bukanlah siapa yang paling pantas menang, melainkan siapa sosok yang mampu merajut ketiga kekuatan raksasa ini menjadi satu bangunan perjuangan yang utuh.
Melihat potret kekuatan pertama, sejak era A. Hassan, Persis memang sangat lekat dengan tradisi tafaqquh fiddin yang ketat. Hari ini, tunas-tunas muda pewaris tradisi itu masih terus tumbuh subur. Mereka adalah para kader yang menghabiskan waktunya bergulat dengan literatur klasik, menelaah keilmuan Al-Qur'an dan tafsir, serta menjaga kemurnian tauhid dan ibadah. Namun, Ulama muda Persis masa kini tidak hanya duduk diam di menara gading pesantren.
Comments 0