Foto penunjang: Tradisi musyawarah dan diskusi ilmiah Pemuda Persia.
Lebih jauh, perdebatan ini tidak hadir dalam ruang hampa. Perdebatan ini terjalin secara langsung dengan momentum besar yang sedang dihadapi oleh Pemuda persis, yakni Muktamar XIV. Muktamar XIV dalam konteks ini tidak bisa direduksi menjadi agenda administratif, melainkan harus dipahami sebagai titik temu antara realitas Kader Pemuda persis dan orientasi ideologis Jam’iyyah Persatuan Islam. Dengan demikian, perdebatan ini menemukan relevansinya yang paling konkret justru di dalam arena muktamar itu sendiri.
Pertanyaannya kemudian menjadi tidak sederhana. Apa implikasinya bagi arah gerakan Pemuda persis sebagai bagian dari Jam’iyyah Persatuan Islam? Dan yang lebih penting, bagaimana Muktamar XIV seharusnya merespons ketegangan epistemologis ini agar tidak berhenti pada polarisasi, tetapi melahirkan sintesis yang lebih matang bagi masa depan jam’iyyah? Di sinilah tulisan ini berIkhtiar bergerak untuk memahami secara lebih dalam.
Gagasan yang diajukan A Andri berangkat dari pembacaan terhadap realitas Kader Pemuda persis yang tidak lagi tunggal. Ia melihat bahwa dalam tubuh Pemuda persis sebagai organ Kader Jam’iyyah Persatuan Islam, terdapat tiga kekuatan utama yang hidup dan berkembang. Yaitu ulama, intelektual, dan aktivis. Ketiganya merupakan representasi dari corak Kader
Comments 0