Buya Hamka memuji “Pembela Islam”, karena memuat artikel-artikel yang ditulis pemimpin-pemimpin Islam kawakan, seperti Muhammad Sabirin dari Partai Sarekat Islam, Haji Agus Salim, Ali Harharah dari al-Irsyad, A. Hassan, Mohammad Natsir, dan Isa Anshari.
Buya Hamka mengatakan, ketika membaca Majalah “Pembela Islam” dalam dirinya timbul semangat untuk turut berjuang membela Islam. Artikel-artikel yang dimuat di dalamnya menggugah hati, menumbuhkan percaya diri untuk bangun, bangkit, bergerak dan berjuang. Hidup atau mati dalam perjuangan Islam.
Sebagai sosok penulis cerdas dan mumpuni, Buya Hamka paham betul bagaimana menilai sebuah karya tulis. Pujiannya terhadap “Pembela Islam” menandakan kalau Majalah tersebut mempunyai kualitas yang sangat baik dan diminati pembaca.
Terlebih, di dalam Majalah memuat ajakan berdebat atau diskusi terkait masalah-masalah agama dan kebangsaan. Saat itu, cara tersebut tidak lazim dilakukan oleh Majalah manapun. “Pembela Islam” hadir dengan gaya yang berbeda.
Di tengah segala keterbatasan dan dihadapkan pada berbagai tantangan, Majalah “Pembela Islam” yang dicetak hingga dua ribu eksemplar hadir menjadi oase dan solusi bagi permasalahan umat di kala itu. Selain di Jawa Barat, penyebaran Majalah Pembela Islam tembus hingga luar pulau, seperti Sulawesi, Kalimantan, Minangkabau, bahkan sampai Malaysia dan Thailand.
Terbit dengan sajian rubrik yang beragam, Pembela Islam memiliki lembar antara 36 s.d. 50 halaman. Penulisan huruf latin, baik yang berbahasa Belanda atau ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, sudah memakai bentuk huruf yang bagus dan dengan bentuk cetakan modern.
Comments 0